Terkaget dan sejenak terhenti seluruh aktivitas saya. Pasalnya, saya terkaget melihat respon anak yang duduk di pangku ibunya dalam perjalanan Karawang-Jakarta. Bukan aneh yang dilakukan bocah kecil itu, hanya saja tingkahnya menurut saya menyiratkan harapan yang besar bagi Bangsa Indonesia. Andai saja 75% dari anak seusianya berperilaku sama dengannya maka saya kira, negara kita akan menjadi negara yang maju.
Bocah yang diperkirakan berusia 3 tahun berteriak sambil menunjuk ke arah tepi jalan.
“mama, mama… Liat disana banjir. Air nya ngalir deres”
Ia dengan sangat lantang berteriak sampai-sampai karena merasa terganggu dengan teriakan, lalu sang mama menegur anak cerdas itu. Mama bilang pada anaknya,
“diem jangan berisik, tar orang-orang terganggu”
Seketika itu pula anak itu diam dan sejenak kemudian ia meneruskan pembicaraannya. Namun kali ini dia tidak berteriak dengan keras, tapi dia merubah gaya dialognya dengan sang mama. Ia memulai pembicaraannya dengan nada yang lebih halus dan mengesankan penghormatan kepada mama serta penumpang yang ada bersamanya.
“ma, Air nya kotor dan warnanya coklat banget, pasti banyak bawa lumpur. Pasti di atas sana hutannya sudah gundul”
Dialog kecil antara si-anak dengan mama, sepertinya adalah hal yang luar biasa. Perilaku kecil sang bocah menyiratkan banyak makna. Sederhana namun syarat makna. Beberapa hal pelajaran yang dapat dipetik: Pertama, ekspresi si-anak berteriak dengan seketika saat melihat aliran air yang sangat deras; kedua, respon sang anak saat mama memperingatkan nya, agar merendahkan suaranya; ketiga, kecerdasan yang tersirat pada dialog yang kedua.
Pertama, ekspresi si-anak berteriak dengan seketika saat melihat aliran air yang sangat deras. Tingkah bocah kecil ini terlihat biasa, jika hanya kita melihat dari sisi berteriak. Sudah menjadi hal biasa jika anak berteriak, menangis dan menjerit. Namun, ada hal lain dibalik itu semua. Bocah itu terlalu eksperif dan seakan-akan menunjukkan pada mama nya bahwa dia peka terhadap semua kejadian alam, termasuk banjir. Sepertinya dia hanya ingin mengatakan bahwa, Saya peka dan peduli dengan kondisi di sekitarnya….!!!
Kedua, respon sang anak saat mama memperingatkan nya, agar merendahkan suaranya. Bocah kecil yang santun itu terdiam dan memulai kembali dengan nada yang lebih rendah. Dia berdialog layaknya pria dewasa yang menjaga agar terlihat bijak. Seorang anak kecil itu dengan sangat santun mengemukan setiap bahasa yang keluar dari mulutnya. Peristiwa yang mengesankan. Tak hanya orang yang bijak yang dapat berbuat santun. Seorang anak kecil pun mampu menampakkan perilaku santun. Bocah yang terlihat lugu itu juga mampu menangkap keinginan mama dan orang lain yang ada disekitarnya. Dia tau apa yang diinginkan oleh mamanya. Dia juga mengetahui hak orang lain untuk mendapatkan kenyamanan dalam perjalanan. Anak kecil yang terlihat toleran.
Ketiga, kecerdasan yang tersirat pada dialog-dialognya. Si-kecil memulai dialognya lagi dengan menyebutkan beberapa hal yang kasat mata. Ia membeberkan derasnya aliran air, dia juga menyampaikan bahwa air itu berwarna coklat, dan sedikit berhipotesa bahwa pasti di dalam air yang mengalir itu pasti ada tanah yang terbawa. Kemudian dialog singkat itu diakhiri dengan kesimpulan yang cukup beralasan. “Pasti di atas sana hutannya sudah gundul”. Dialog singkat, menyiratkan kecerdasan sang anak kecil, anak kecil Indonesia. Anak sekecil itu sudah dapat menganalisa sebuah phenomena alam dan kemudian menyampaikan pendapat atau hasil analisanya.
Memang masih sangat umum dan sederhana yang ia sampaikan, namun bukan sederhananya yang coba kita perhatikan. Anak itu dengan kemampuan, pengetahuan, dan kecerdasannya telah berusaha menganalisa kejadian. Ini poin pentingnya. Kemudian, keberaniannya untuk menyampaikan hasil analisanya. Terlihat sepele, karena saat itu dia hanya menyampaikan hasil analisanya kepada mama bukan pada khalayak ramai. Mungkin dia masih belum berani menyampaikan hasil analisanya pada khalayak ramai, tapi yang mampak oleh kita adalah perilakul orang berilmu yang ingin hasil temuannya diketahui oleh orang lain dan berharap dapat berkontribusi kepada masyarakat.
Bukan berlebihan jika, kita coba sedikit merenungkan beberapa butir kejadian di atas. Peka, peduli, santun, toleran dan menghormati, cerdas, serta keinginan yang kuat adalah beberapa pelajaran yang mesti dapat kita perdalam. Jika sang bocah cukup piawai dalam melakoni beberapa hal positif itu maka tidak layak jika kita yang dewasa hanya berdiam dan tak mau merenungkan hal tersebut. Kemudian, sepertinya kita harus cukup berbangga dengan kemajuan yang nampa pada anak-anak di negeri ini.
Saya yakin dan berharap bahwa bukan hanya dia, tetapi jutaan anak Indonesia pasti berperilaku sepertinya. Jika memang iya, maka kita harus berbangga karena ini pertanda bahwa Negara kita akan lebih cepat untuk mencapai kemajuan. Sokongan SDM yang berkualitas akan mengakselerasi kemajuan di negeri ini. Selain berharap, sepertinya kita seyogyanya dapat pula berkontribusi pada proses percepatan itu.
Semoga menggugah…..
Salam untuk negeriku…...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar