Ekonomi

Rabu, 12 Januari 2011

Kesantunan Pengamen

Pemandangan sisi kiri dan kanan tol jagorawi menjadi hal yang biasa bagi pelancong Bogor- Jakarta. Pagi buta dan petang pilu menjadi pemandangan yang slalu menyegarkan. Entah mengapa hal itu yang saya rasakan acapkali melintas di Tol terbaik dan termurah di Indonesia itu. Selain pemandangan yang indah dan menyiratkan keberagaman, perjalanan Bogor-Jakarta atau sebaliknya sering kali kita menemukan hal lain dalam bis yang kita tumpangi. Kesantunan para pengamen jalan yang berusaha mengais rezeki di dalamnya.

Dikatakan santun, maka pengamen jalan layak mendapat predikat tersebut. Pasalnya pengamen yang menghibur pelancong sedia selalu dengan kata maaf. Pengamen sadar bahwa apa yang dia lakukan bukan hanya akan berimbas positif tatapi juga akan mendapat reaksi yang lain dari pada pendengarnya. Pengamen dengan kesederhanaan bahasa mengucapkan kata pembuka.

“mohon maaf kepada seluruh penumpang jika kehadiran saya disini menyita kenyamanan perjalanan anda. Terima kasih pada bapak supir dan kondektur yang telah memberikan kesempatan kepada saya. Semoga anda terhibur…………”

Hal ini berbanding terbalik dengan hipotesa yang mengatakan bahwa perut lapar, menjadikan otak tidak rasional dan bertindak nekat. Bukan bermaksud untuk membenarkan profesi pengamen yang sampai sekarang masih diperdebatkan, ternyata hipotesa ini tidak berlaku untuk para pengamen yang hadir menemani perjalanan. Mereka dengan santun menyapa pendengarnya layak konser megah musisi kelas dunia. Tidak ada sedikitpun dalam benaknya tersirat untuk berpikir tidak rasional. Semua ini terlepas dari keterbatasan yang dia miliki sehingga memaksa untuk berbuat santun sebagai strategi menarik perhatian.

Pengamen jalan adalah cerminan bahwa rakyat kita memiliki kesantunan yang sangat luar biasa. Berbesar hati dengan keadaan dan menikmati perjalanan hidup yang sederhana. Andainya kesantunan dan berbesar hati ini dapat pula dipertontonkan oleh birokrat dan politisi di negeri ini. Maka perjalan bangsa ini juga akan nyaman. Roda pemerintah dan politik akan berjalan dengan mulus dan menjadi pusat perhatian yang sangat menarik oleh rakyat.

Mengingat bahwa akhir ini keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan sudah sangat minim. Bukan sebagai bentuk hipotesa yang teruji kebenarannya, malainkan hanya sebagai dugaan sederhana, bahwa rendahnya partisipasi publik dalam pembangunan juga disebabkan oleh aksi yang dilakukan para birokrat dan politisi. Baik yang mencerminkan kepribadian maupun sistem yang disalahkan telah membuat anggapan bahwa negeri ini tak santun lagi pada rakyatnya.

Perdebatan yang berujung pada pertengkaran dan sengketa politik merupakan pemandangan yang tak luput dari kaca mata rakyat. Hanya karena salah ucap, atau berbicara dengan ketidaktahuan yang diklaim sebagai statmen politik menjadi percekcokan yang sengit. Saling melempar argumen dipandang hal yang biasa dalam demokrasi padahal itu mencerminkan ketidaksantunan dalam pandangan rakyat.

Sisi lain dari sistem pembangunan kita juga dapat dikatakan tidak santun. Beberapa hasil penelitian yang menyebutkan bahwa paradigma pembangunan yang berlangsung dan telah mendarah daging di Indonesia juga telah menghilangkan kearifan lokal. Sebagian besar proses pembangunan diwarnai dengan mengacuhkan peran serta rakyat Indonesia. Paradigma pembangunan seperti ini dianggap tidak santun terhadap rakyat Indonesia. Memperhatikan kesantunan si-pengamen, sepertinya kita mesti banyak belajar tentang kesantunan. Berharap dengan kesantunan pembangunan kita dapat berjalan dengan baik dan tujuan pembangunan untuk mensejahterakan rakyat dapat terwujud.

Kesantunan si-pengamen juga tidak terhenti pada pembukaan tetapi juga pertunjukan sederhana tersebut diakhiri dengan kesantunan.

“ mohon maaf kepada penumpang sekalian jika kehadiran saya menyita kenyamanan anda, sedikit partisipasi dari anda kami harapkan. Ikhlas dari anda, halal bagi kami”

Semoga bermanfaat bagi kita semua
Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar